Cerpen

title

Ketinting Belarut


Penulis: Miziansyah | Posting: 23 Oktober 2021

Run kembali ke Samarinda dan langsung dengan mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Sebagai nelayan air tawar, arus dan lubuk sepanjang Mahakam sudah ia hapal sejak dulu. Ia kelahiran sini, dan sudah lama berpenghidupan di Sungai Mahakam.

“Sekarang ini penangkapan udang tidak semudah dulu, Run,” bilang I’il ketika duduk santai sambil ngopi di pelataran rumah yang menghadap ke sungai. Seterusnya, I’il berujar lagi, “Apalagi sekarang orang-orang lebih banyak menggunakan setrum sehingga bibit-bibit ikan dan udang banyak yang musnah.”

“Ya, tidak beda, di Sungai Kendilo juga begitu," sahut Run menimpali.

Dengan setengah menganjurkan, I’ll berujar kepada Run, “Sebaiknya ikuti saja orang berburu udang di Sungai Mahakam.

“Yah, saya pikir-pikir dululah,” jawab Run singkat.

“Pokoknya malam ini ikut saya, kita tinjau dulu biar tahu bagaimana suasananya,” I’il mengajak Run tanpa syarat.

Sekitar pukul 21.00, sungai mulai konda. Ternyata, berpuluh-puluh rekan I’ll mengajaknya bareng ke daerah ilir sungai. Berpuluh mesin tempel bergemuruh memecah kesunyian malam. Run merasakan ada perubahan mencolok. Pada masa dulu sudah banyak mesin tempel, tapi tak sesemrawut sekarang. Sebagian lagi masih mendayung perahu. Media perburuannya juga cukup sederhana: rawai, rengge, dan jala.

Run teringat Sungai Kendilo yang ditinggalkannya. Kendilo tidak sesibuk Mahakam. Di Kendilo, sasaran perburuan tidak terlalu ramai. Di sanalah inspirasi antipati Run terhadap kerusakan lingkungan mulai termunculkan. Para nelayan tidak memikirkan masa depan.

Yang menjadi ganjalan hati Run, nelayan-nelayan generasi sekarang lebih berambisi untuk memenuhkan kesempatan sesaat, tidak memikirkan hak-hak anak cucu sebagai genarasi pewaris nantinya. Mereka adalah manusia-manusia serakah.

Begitu Run menyaksikan suasana perburuan udang di ceruk-ceruk Mahakam, hasrat hatinya semakin hambar. Ia tetap membisu sepanjang perjalanan pulang malam itu. Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari.

“Bagaimana menurutmu, tertarik sudah?” tawar I’il. Tawaran itu bukannya membangkitkan hasratnya, tapi hatinya justru merunyam. Minatnya tersendat.

Cara nelayan di Sungai Mahakam lebih berisiko tinggi. Sebagai sungai yang menjadi jalur lalu-lintas, Mahakam selalu sibuk. Situasi sungai selalu sering dilewati, padahal orang yang hendak mencari udang senangnya ngompet-ngompet. Di Kendilo orang tak begitu khawatir menebar jala di posisi mana pun. Bebas tak ada yang mengawasi.

“Menurutku, memburu udang di Mahakam agaknya riskan. Aku merasa sungkan dan malu,” ungkap Run secara gamblang.

“Perasaan semacam itu harus dibuang jauh-jauh. Mana bisa bertarung dengan kegesitan orang-orang bernyali tinggi?” demikian pandangan I’il.

“Tapi batinku terasa loyo, bukan sekadar minder. Hati kecilku merasa terganjal melihat suasana begini.”

“O, itu artinya kamu harus lebih bisa beradaptasi lagi dengan lingkungan baru ini,” dorongan I’il meyakinkan.

Perkara yang memberatkan Run untuk bekerja bukanlah soal merasa asing terhadap lingkungan. Samarinda adalah tempat lahirnya. Mahakam merupakan napas dan denyut nadi kehidupannya sejak dulu. Pasal sebenarnya ia tak mau terlibat merusak lingkungan.

Memang, kerusakan lingkungan itu sebagian besarnya bukan ulah para nelayan. Kerusakan itu lebih banyak disebabkan oleh pembuangan limbah industri yang mengandung bahan kimia. Tapi, ulah merajalelanya nelayan menggunakan setrum ikut menambah juga.

Dulu, Mahakam masih normal, dihuni oleh keanekaragaman ikan air tawar, termasuk pesut Mahakam yang terkenal itu. Pada musim-musim tertentu, di bagian sungai yang landai sering terjadi pemandangan yang menakjubkan. Pesut-pesut Mahakam berloncatan. Sama halnya dengan pesut-pesut di Sungai Amazon. Namun, populasi pesut Mahakam kini telah mengalami penyusutan. Kini, tak tampak lagi pemandangan yang menakjubkan itu. Pesut Mahakam nyaris tinggal istilah dalam maskot, lambang fauna khas Kalimantan Timur.

Pada ceruk-ceruk anak sungainya, seperti Karang Mumus, seingat Rum, dulunya adalah sarang udang galah. Dan tepian Lempake sampai ke Temindung adalah titik-titik tempat pemasangan lukah udang galah. Setiap pagi dan sore, Run tinggal memetik udang-udang galah segar yang siap dipasarkan. Demikian makmurnya anak-anak Sungai Mahakam ketika masih normal-normalnya.

Kondisi Mahakam maupun Kendilo nampaknya sama-sama mengalami perubahan. Pendapatan perburuan ikan kini jauh menurun dibandingkan masa lalu. Dulu, memasang rengge atau menebar lunta sudah cukup untuk penghasilan sehari-hari. Ikan mangkih, jelawat, lampam, baung, dan lain-lain masih berlimpah untuk diburu nelayan air tawar Sungai Kendilo dan Sungai Mahakam. Itu dulu.

Run memang harus ke sungai untuk mencari penghidupan. Tapi, ia masih punya persoalan. Ia belum punya perahu tempel. Punya I’il memang ada, malahan I’ll menawarkan agar bisa dipakai bergantian tanpa imbalan apapun. Maklum, saudara sendiri. Tapi Run belum terima tawaran itu.

Dan alhamdulillah, keesokan harinya tanpa dinyana ia ditawari perahu tempel oleh teman lamanya untuk dipakai tanpa perhitungan. Run menerima dengan senang, walaupun demikian Run pun tetap memperhitungkannya secara cicilan nantinya.

Malam ini adalah malam terbaik menurut I’il. I’il pun mengajak Run untuk berangkat bersama berburu sepanjang Sungai Mahakam, dan ilir ke hulu. Tapi, ajakan I’ll kurang mendapat tempat di hati Run.

Pada pagi harinya, I’il telah tiba di rumah dengan penghasilan yang lumayan. Udang yang dihasilkan semuanya sudah dilego di Sungai Lais, tinggal ikan campuran yang akan dikonsumsi sendiri untuk lauk-pauk keluarga.

Besok malamnya Run berangkat menuju muara bersama rombongan peluntaan, perenggean, dan pehampangan. Run sendiri termasuk pengguna jala dan rengge. Keberangkatan Run ke muara bukan hanya untuk semalam, tapi memakan waktu mingguan. Karena itu, Run sebelum berangkat telah menyiapkan segala sesuatunya, seperti bahan makanan, air tawar, bahan bakar, peti es, dan lain sebagainya.

Sistem kerja Run memburu ikan di sekitar kuala Makaham adalah pada malam hari. Menebar jala pada malam hari agaknya jauh menguntungkan dibanding siang hari. Sementara pagi harinya, Run terus memetik penghasilan dari rengge yang banyak terisi ikan belanak. Ikan-ikan ia taruh di dalam peti, ditaburi pecahan-pecahan es sehingga kelihatan tetap segar. Hasil dari jala ditaruh di peti lain, juga ditaburi es.

Pada hari keempat teman-teman Run mengajak untuk mudik.

“Kita sudah empat hari, sebaiknya kita pulang saja dulu.”

Ajakan mereka pun disambut Run. Di samping hatinya dirasuki jenuh, bekal pun sudah menipis. Pukul 08.00 bergeraklah serombongan peluntaan mudik. Mereka membawa hasil yang lumayan, baik udang maupun ikan campuran. Run bisa merasakan bahwa ternyata penghasilan di Mahakam memang lebih besar dibanding Kendilo.

***

Besok malamnya, pukul 21.00, bulan purnama bersinar. Sungai Mahakam mengalami pasang dalam. Agak terasa tenang melihat pantulan cahaya purnama di permukaan air, meski dibuyarkan oleh riak-riak kecil ketika ada kendaraan air melintas. Tanpa menghiraukan suasana, rombongan I’il mulai bergerak ke arah ilir sungai. Gemuruh dan deru mesin memecah kesunyian malam.

Rupanya, setelah sampai ke tujuan, rombongan berberai, masing-masing mengharu-biru di ceruk-ceruk yang strategis menurut pengalaman mereka.

Pada pagi harinya tersiar kabar, sebuah ketinting hanyut terbawa arus pasang. Tampak di dalam perahu seperangkat alat setrum lengkap sedangkan pemiliknya tidak menampakkan batang hidungnya. Perahu yang mengapung itu ditemukan di sekitar perairan Kampung Tengah, Pulau Atas. Diperkirakan pemilik ketinting tenggelam kena setrum. Mungkin alat penyodok udang yang dialiri listrik tersangkut di kedalaman air sehingga pemiliknya pun mencebur ke dalam air dengan maksud memperbaiki. Pada saat itulah ia kesetrum. Dan, ternyata pemilik ketinting naas itu adalah I’il. (***)


Keterangan:

Ketinting = perahu bermesin

Belarut = terhanyut

Kendilo = sungai besar di Kabupaten Pasir, Kaltim

Lukah = bubu

Lunta =jala

Rengge =jaring

Sungai Lais = salah satu kawasan di Kota Samarinda

Pelunataan = para penjala ikan

Perenggean = para pemasang jaring

Pehampangan = para nelayan empang

Kampung Tengah, Pulau Atas = kawasan di bagian ilir Kota Samarinda


-----------------------------------------------------

MIZIANSYAH. Lahir di Tanah Bangkang, Kandangan, Kalimantan Selatan, 2 Juni 1957.  Mulai menulis sejak 1972, tetapi baru mempublikasikan karyanya pada tahun 1980. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa nasional dan daerah, di antaranya di Minggu Pagi (Yogyakarta), Kaltim Post, Banjarmasin Post, Media Masyarakat, Utama, Dinamika, Merdeka, Pelita, dan RRI Nusantara III di Banjarmasin. Satu cerpennya termuat dalam antologi cerpen penulis Kaltim Bingkisan Petir (2005). Sebagian sajaknya dihimpun dalam Tanah yang Terbatas (1982) dan Rumah Kecil (1984). Sebagian puisinya diterbitkan dalam antologi bersama Dahaga-B. Post 1981 (1982) dan Palangsaran (1982). Pada tahun 1982 ia menjadi salah seorang peserta acara Forum Penyair Muda 8 Kota di Banjarmasin.

Share:
Cerpen Lainnya