Puisi

title

Komunitas Rumah Panjang


Penulis: Roedy Haryo Widjono AMZ | Posting: 11 September 2021


Dua puluh pintu pemukiman terikat tali darah

menggiring kaki menuruni bukit kehidupan

Dataran Tinggi Benuaq pedalaman Mahakam,

Menyandang parang, menggendong kiang


Dari mulut keriput mengepul asap rokok daun nipah

tergulung legam tembakau Ampenan

sambil sesekali bergumam Latalla, Latalla

bermaksud menuruti hasrat mengundang kemurahan sang Pencipta.


Jiwa-jiwa keluarga lengang dalam penantian di bilik lou

Harap yang rapuh beratap sayatan ulin, terikat

                                                      sulur rotan tanpa ventilasi

Matahari impoten dan rembulan pun mandul.


Di ujung tangga ketinggian empat kaki,

seorang raga bocah menggapai,

ingin terjun ke bawah menjenguk tanah,

bermain bebas dalam buncit cacingan,

beserta-Nya di renggas petang,

sambil bermimpi tentang masa depan.


Tuhan enggan masuk hutan,

lelah mendaki pondok pribumi.

Rumput keraguan

terjuntai gemulai

dengan

kibar alang-alang


Tiga misteri belantara

Tuhan

Hutan

Hantu

Adakah

karunia

nikmat

esok hari?


Tak

mudah

untuk

dipastikan.

bila

kekuasaan

tetap

menggilas

kasih.


Benung, Juni 1990

Keterangan:

Kiang = terbuat dan rotan, merupakan sarana pengangkut bawaan, disandang di punggung dengan dua anyaman pipih penahan pada kedua bahu pemikul.

Latalla = Tuhan, sebutan bahasa Dayak Benuaq.

Lou =Iamin= rumah panjang orang Dayak.

------------------------------------------------


Sahabat, Sapamu Terus Ada

       :JJ Kusni


Memang kuyakini sejak kau kutemukan lagi,

setelah bertahun-tahun kuputari rimba,

berbulan lamanya mengaduk ceruk lubuk,

berbilang hari menguji kerlip matahari,

niscaya sapamu terus ada.


Ketika kutanyai gelombang, ia pun mengangguk tak meratap

Angin tak menggeleng, ketika kulontari tanya yang sama

Dalam mantraku, kalbumu menyeruak

Menebarkan ingatanku sekian tahun silam,

seraya meneguk tuak kerabat kita terhuyung-huyung

oleh gejolak memerdekakan Dayak.


Kalau itu aku torehkan sapa,

ada mantra sedang kutelusuri makna gaibnya.

Karena aku niscaya, kita orang Dayak memang berbunda mantra.

Dan ayah kita yang senantiasa bersemayam di semesta,

selalu saja mengibar-kibarkankan syair bunda di puncak Iou,

rumah panjang yang terus lusuh digulung peradaban.


Padahal di lou itu,

disejajar dua tiang dua pelukan

masih terpahat gurat mantra dari leher keringat moyang,

yang kini kian lusuh tak terurus dikikis mantra SMS.

Dan dering polyhonic itu telah memecahkan tempayan naga.


Kugenggam terus sapamu kini.

Tak peduli di rimba mana engkau bersemayam,

di mantra jua kita berpagut.

“Tak setetes pun jangan sisakan,”

begitu ucap mantramu.


Ya,

tuak akan tetap menetes,

dan memang tak setetes pun kan kusisakan.

Sebab mantra tak akan habis diteguk.


Samarinda, 2005

Keterangan:

JJ Kusni = Penyair Dayak dan etnik Ngaju, Kalteng, sejak peristiwa 30 September 1965 menjadi penyair eksil di berbagai negara di dunia, dan terakhir menetap di Paris, Prancis (pernah ke Kutai Barat, sewaktu seminar dan peluncuran buku Bingkisan Petir dan Rindu karya Korrie Layun Rampan di Gedung Tanaa Purai Ngeriman, Sendawar, 2005). JJ Kusni salah satu nama samarannya, terakhir meraih gelar doktor dalam bidang antropologi. la menguasai puluhan bahasa di dunia.

Lou (Benuaq) = Iamin= betang dalam bahasa Dayak Ngaju (Kapuas), rumah panjang orang Dayak.

------------------------------------------------


Laut Mual


Kuminta engkau melukiskan angin

pada kanvas kegelapan

selembar rimba renta


Laut pun mual

lalu memuntahkan ombak

menggulung perahu masa depan

berseret ke pantai pasir hitam


Aku terombang-ambing

di lautan angin

mual lalu memuntahkan pantai


Biak Numfor, 2003

Surga Terselip dalam Ziarah Lelaki Penghibur (manuskrip)

------------------------------------------------


Mantra Bukit Rawi


Menapak jejak di bentang jalan masa silam,

aku menghirup aroma duka tradisi.


Sandung Sura Jaya Pati satu tiang menggantung lusuh,

terasa lelah memikul beban leluhur.

Bukit Rawi kian rentang dikepung usia.


Angin di jantung kampung,

acapkali berhembus dengan geliat yang meronta.

Langit tak saja mendung di kala senja,

kapan dia mau niscaya awan tersaput pekat jelaga kehidupan.


Hujan tengah tahun tak bermakna berkah,

menetes seperti kutukan yang mendera setiap mimpi indah

terbelah kilau petir.

Bahkan pelangi tak jua berpendar,

karena pekat hitam kemajuan zaman telah merebut tahta langit.


Mantra Bukit Rawi,

senandung duka anak negeri.


Palangka Raya, 2

------------------------------------------------


Rindu Somba Opu


Pada pijar temaram lampu Somba Opu,

bergegas kupungut butiran desah masa lalu.


Ketika desir angin menggelinjangkan rindu,

tiba-tiba aku tergagap.

Sebab malam kian lelap tertidur di kelambu rembulan.


Kita pernah serta dalam pusaran waktu,

yang terus tersimpan di relung ombak.

Makassar pun tersipu.


Makassar, 2004


------------------------------------------------

ROEDY HARYO WIDJONO AMZ. Lahir d Solo, Jawa Tengah, 5 JuIi 1958 dan kini bermukim di Samarinda. Penggiat Komunitas Studi Silang Budaya dan Direktur Nomaden Institute for Cross-Cultural Studies. Buku-bukunya antara lain Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok (1998), Agenda Reformasi: Menata Kembali Hubungan Negara dan Masyarakat Adat (1998), Revitalisasi Masyarakat Adat dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam (2000). Prahara Budaya dalam Eksploitasi Sumber Daya Alam: Refleksi Peradaban Komunitas Adat di Borneo (2002). Belian, yang Hilang dari Peradaban Masa Silam (2009), dan Menguak Tabir Meta Kuliner dalam Perspektif Kosmologi Dayak (2010). Kumpulan puisinya yang telah terbit yaitu Catatan BeIantara (1989), Lelaki Penunggang Gelombang (1997), Negeri Bara Api (2000), dan Kesaksian Lelaki Penghibur yang ditulis tatkala berziarah berbagai negeri yang díkunjunginya.


Foto: Prasetyo Eko P/Kompas

Share:
Puisi Lainnya