Puisi

title

Manuskrip Daun


Penulis: Tjahjono Widijanto | Posting: 12 September 2021


angin begitu mengenal musim sejak langit menoreh cahaya pertama

mimpi yang perih terbang bersamanya menunggu lengkap hitungan

bumi melambai dengan mata malaikat tua

siapa mengendap bersekutu dengan waktu?


malam bersama bulan menyimpan

mangsa kawin pada ranjangnya

birahi meronta dari peti-peti mati

seperti kenangan penyair yang letih

belajar mentakzim pelacur dan para pemabuk


pada ceruk-ceruk sungai sorga menyendiri

serombongan malaikat kembali tafakur

dengan usia bertambah tua

dengan jakun yang bergetar

menghikmat musim berlepasan

bersama mimpi ganjil yang harus tanggal

dari kisut tangan jahil mereka


tak ada tanda perkabungan yang pantas

kecuali kata yang ikhlas dipenggal


“kasihku, aku …!”


Ngawi, 019/021

------------------------------------------------


ABU TERAKHIR


dalam sepenggal sajak kutitip sepenggal doa

serupa mantra bersama musim kekal berganti.

kubayangkan kau menyalakan

matahari di kedua lengan

aku hampir gila menyentuhmu

kau tertawa menciptakan

gemuruh lautmu sendiri


abad-abad menjelma seribu kesunyian

rongga-rongga tak pernah diam di antara belukar,

dalam jendela, pada anglo-anglo uap dalam asap yang sangit

pohon abu-abu tafakur bersama waktu

terbata-bata melafal talqin-talqin tua

jari-jari bergetar mesra seakan terlampau kekal

batu-batu pemujaan yang bisu

tiang-tiang mimbar, ceruk-ceruk batu purba

tetesan suci dibuahi langit


kubayangkan kelak di antara seribu detak jarum

jam dinding berlari-lari berburu surup dan fajar,

penyair yang kelak tua menghisap abu terakhir

menulis penggal sajak yang juga terakhir


Ngawi, 019/021

------------------------------------------------


BULAN SUNGSANG


malam ini tak ada sajak bisa ditulis

gerimis memecah sunyi bersama bulan sungsang

tak ada yang dapat dicatat selain kenduri omong kosong

kita membikinnya semegah menara


kabut juga leret bintang kehilangan cahaya

timbunan galaksi seperti perut yang melompong

dengan rongga-rongga yang diam


jendala, di lobangnya jagat menganga

musim mendadak kembali berlari pada masa bocah

antara dendam dan jam bermain


dalam kubangan bayang-bayang

sulur pohon yang menyendiri

perempuan menghitung tulang iga suaminya


di antara jejak gerimis yang tersesat

bulan sungsang meringis seperti wajah penyair

merangkak bersama sorai malaekat dan iblis

menggambar sorga dari cuilan langit yang hitam


dalam tatapan bulan sungsang

seperti kembali belajar jatuh cinta

sebelum hujan benar-benar turun

menyempurnakan putik dan kelopak


bersamanya kelelawar menjerit

di punggung malam meledak

dari balik lobang jendela

selain sungsang bulan

apalagi yang dapat kau pandang?


Ngawi, 2021


------------------------------------------------

TJAHJONO WIDIJANTO. Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menulis puisi, esai, dan sesekali cerpen di berbagai media nasional. Buku-bukunya antara lain Eksotika Sastra: Kumpulan Esai Telaah Sastra (2017); Metafora Waktu: Kumpulan Esai Budaya (2017) Dari Zaman Kapujanggan Hingga Kapitalisme: Segugusan Esai dan Telaah Sastra (2011), Penakwil Sunyi di Jalan-jalan Api (2018), Wangsit Langit (2015), Janturan (Juni, 2011), Cakil (2014), Menulis Sastra Siapa Takut? (2014), Dari Zaman Citra ke Metafiksi, Bunga Rampai Telaah Sastra DKJ (Kepustakaan Populer Gramedian dan Dewan Kesenian Jakarta, 2010), , Compassion & Solidarity A Bilingual Anthology of Indonesian Writing (UWRF 2009), dan lain-lain.

Memperoleh Penghargaan Sastra Pendidik dari Badan Pusat Bahasa (2011), Penghargaan Seniman (Sastrawan) Gubernur Jawa Timur (2014) dan Penghargaan Sutasoma (Balai Bahasa Jawa Timur, 2019). Juga sudah memenangkan berbagai sayembara menulis, antara lain Pemenang II Sayembara Kritik Sastra Nasional Dewan Kesenian Jakarta (2004), , Pemenang Unggulan Telaah Sastra Nasional Dewan Kesenian Jakarta (2010), Pemenang II Sayembara Pusat Perbukuan Nasional (2008 dan 2009), Pemenang II Sayembara Esai Sastra Korea (2009), dan lain-lain. Saat ini tinggal di Ngawi, Jawa Timur.


Photo by Ben White/unsplash


Share:
Puisi Lainnya