Puisi

Yang Selalu Terapung di Atas Gelombang


Penulis: Taufiq Ismail | Posting: 14 Juni 2021


Seseorang dianggap tak bersalah,

sampai dia dibuktikan hukum bersalah.

Di negeri kami, ungkapan ini terdengar begitu indah.

Kini simaklah sebuah kisah,


Seorang pegawai tinggi,

gajinya sebulan satu setengah juta rupiah,

Di garasinya ada Honda metalik, Volvo hitam,

BMW abu-abu, Porsche biru dan Mercedes merah.

Anaknya sekolah di Leiden, Montpelier dan Savannah.

Rumahnya bertebaran di Menteng, Kebayoran dan

Macam Macam Indah,

Setiap semester ganjil,

istri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura.

Setiap semester genap,

istri gelap liburan di Eropa dan Afrika,


Anak-anaknya pegang dua pabrik,

tiga apotik dan empat biro jasa.

Saudara sepupu dan kemenakannya

punya lima toko onderdil,

enam biro iklan dan tujuh pusat belanja,

Ketika rupiah anjlok terperosok,

kepleset macet dan hancur jadi bubur,

dia ketawa terbahak- bahak

karena depositonya dalam dolar Amerika semua.

Sesudah matahari dua kali tenggelam di langit barat,

jumlah rupiahnya melesat sepuluh kali lipat,


Krisis makin menjadi-jadi, di mana-mana orang antri,

maka seratus kantong plastik hitam dia bagi-bagi.

Isinya masing-masing lima genggam beras,

empat cangkir minyak goreng dan tiga bungkus mi cepat-jadi.

Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di kotak televisi,

dan masuk berita koran Jakarta halaman lima pagi-pagi sekali,


Gelombang mau datang, datanglah gelombang,

setiap air bah pasang dia senantiasa

terapung di atas banjir bandang.

Banyak orang tenggelam tak mampu timbul lagi,

lalu dia berkata begini,

Yah, masing-masing kita rezekinya kan sendiri-sendiri


Seperti bandul jam tua yang bergoyang kau lihatlah:

kekayaan misterius mau diperiksa,

kekayaan tidak jadi diperiksa,

kekayaan mau diperiksa,

kekayaan tidak diperiksa,

kekayaan harus diperiksa,

kekayaan tidak jadi diperiksa.

Bandul jam tua Westminster,

tahun empat puluh satu diproduksi,

capek bergoyang begini, sampai dia berhenti sendiri,


Kemudian ide baru datang lagi,

isi formulir harta benda sendiri,

harus terus terang tapi,

dikirimkan pagi-pagi tertutup rapi,

karena ini soal sangat pribadi,

Selepas itu suasana hening sepi lagi,

cuma ada bunyi burung perkutut sekali-sekali,

Seseorang dianggap tak bersalah,

sampai dia dibuktikan hukum bersalah.


Di negeri kami, ungkapan ini terdengar begitu indah.

Bagaimana membuktikan bersalah,

kalau kulit tak dapat dijamah.

Menyentuh tak bisa dari jauh,

memegang tak dapat dari dekat,


Karena ilmu kiat,

orde datang dan orde berangkat,

dia akan tetap saja selamat,

Kini lihat,

di patio rumahnya dengan arsitektur Mediterania,

seraya menghirup teh nasgitel

dia duduk menerima telepon

dari istrinya yang sedang tur di Venezia,

sesudah menilai tiga proposal,

dua diskusi panel dan sebuah rencana rapat kerja,


Sementara itu disimaknya lagu favorit My Way,

senandung lama Frank Sinatra

yang kemarin baru meninggal dunia,

ditingkah lagu burung perkutut sepuluh juta

dari sangkar tergantung di atas sana

dan tak habis-habisnya

di layar kaca jinggel bola Piala Dunia,


Go, go, go, ale ale ale


1998

------------------------------------------------


Takut 66, Takut 98


Mahasiswa takut pada dosen

Dosen takut pada dekan

Dekan takut pada rektor

Rektor takut pada menteri

Menteri takut pada presiden

Presiden takut pada mahasiswa

takut “66, takut “98


1998

------------------------------------------------


Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis


Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri

Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan

Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami

Sejak lahir sampai dewasa ini

Jadi sangat tepergantung pada budaya

Meminjam uang ke mancanegara

Sudah satu keturunan jangka waktunya

Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula

Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni

Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi

Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini

Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi

Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia

Kita gadaikan sikap bersahaja kita

Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta

Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka

Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita

Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia

Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama

Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia

Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi

Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri

Sambil kepala kita dimakan begini

Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti

Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi

Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni

Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama

Menggigit dan mengunyah teratur berirama

Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi

Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini

Bagai ikan kekurangan air dan zat asam

Beratus juta kita menggelepar menggelinjang

Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang

Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya

Meminjam kepeng ke mancanegara

Dari membuat peniti dua senti

Sampai membangun kilang gas bumi

Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi

Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi

Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri

Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis

Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis

Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa

Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa

Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya

Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami

Kalian lah yang membuat kami jadi begini

Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi

Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini


1998

------------------------------------------------


Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia


I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga

Ke Wisconsin aku dapat beasiswa

Sembilan belas lima enam itulah tahunnya

Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia

Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia

Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda

Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,

Whitefish Bay kampung asalnya

Kagum dia pada revolusi Indonesia

Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya

Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama

Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya

Dadaku busung jadi anak Indonesia

Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy

Dan mendapat Ph.D. dari Rice University

Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army

Dulu dadaku tegap bila aku berdiri

Mengapa sering benar aku merunduk kini


II

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs 0‡7lys¨¦es dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.


III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,

Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi

berterang-terang curang susah dicari tandingan,

Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu

dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek

secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,

Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,

senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan

peuyeum dipotong birokrasi

lebih separuh masuk kantung jas safari,

Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,

anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,

menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,

agar orangtua mereka bersenang hati,

Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum

sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas

penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,

Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan

sandiwara yang opininya bersilang tak habis

dan tak utus dilarang-larang,

Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata

supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,

Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,

ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,

sekarang saja sementara mereka kalah,

kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka

oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,

Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia

dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,

kabarnya dengan sepotong SK

suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,

Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,

lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,

Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,

fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,

Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat

jadi pertunjukan teror penonton antarkota

cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita

tak pernah bersedia menerima skor pertandingan

yang disetujui bersama,


Di negeriku rupanya sudah diputuskan

kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,

lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil

karena China, India, Rusia dan kita tak turut serta,

sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,

Di negeriku ada pembunuhan, penculikan

dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,

Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,

Nipah, Santa Cruz dan Irian,

ada pula pembantahan terang-terangan

yang merupakan dusta terang-terangan

di bawah cahaya surya terang-terangan,

dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai

saksi terang-terangan,

Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,

tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang

menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.


IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs 0‡7lys¨¦es dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.


1998

------------------------------------------------


Dari Catatan Seorang Demonstran


Inilah peperangan

Tanpa jenderal, tanpa senapan

Pada hari-hari yang mendung

Bahkan tanpa harapan


Di sinilah keberanian diuji

Kebenaran dicoba dihancurkan

Pada hari-hari berkabung

Di depan menghadang ribuan lawan


Yayasan Ananda, Jakarta, 1993

------------------------------------------------


Mencari Sebuah Mesjid


Aku diberitahu tentang sebuah masjid

yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan

fondasinya batu karang dan pualam pilihan

atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan

dan kubahnya tembus pandang, berkilauan

digosok topan kutub utara dan selatan


Aku rindu dan mengembara mencarinya


Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan

dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran

dengan warna platina dan keemasan

berbentuk daun-daunan sangat beraturan

serta sarang lebah demikian geometriknya

ranting dan tunas jalin berjalin

bergaris-garis gambar putaran angin


Aku rindu dan mengembara mencarinya


Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya

menyentuh lapisan ozon

dan menyeru azan tak habis-habisnya

membuat lingkaran mengikat pinggang dunia

kemudian nadanya yang lepas-lepas

disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas

yang memperindah ratusan juta sajadah

di setiap rumah tempatnya singgah


Aku rindu dan mengembara mencarinya


Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana

bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya

engkau berjalan sampai waktu asar

tak bisa kau capai saf pertama

sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu

bershalatlah di mana saja

di lantai masjid ini, yang luas luar biasa


Aku rindu dan mengembara mencarinya


Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya

yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya

dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya

di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian

yang menyimpan cahaya matahari

kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan

ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna

di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta

terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita


Aku rindu dan mengembara mencarinya


Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya

tempat orang-orang bersila bersama

dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka

dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian

dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan

dalam simpul persaudaraan yang sejati

dalam hangat sajadah yang itu juga

terbentang di sebuah masjid yang mana


Tumpas aku dalam rindu

Mengembara mencarinya

Di manakah dia gerangan letaknya ?


Pada suatu hari aku mengikuti matahari

ketika di puncak tergelincir dia sempat

lewat seperempat kuadran turun ke barat

dan terdengar merdunya azan di pegunungan

dan aku pun melayangkan pandangan

mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan

ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan

dia berkata :


Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan!


dia menunjuk ke tanah ladang itu

dan di atas lahan pertanian dia bentangkan

secarik tikar pandan

kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran

airnya bening dan dingin mengalir beraturan

tanpa kata dia berwudhu duluan

aku pun di bawah air itu menampungkan tangan

ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan

hangat air terasa, bukan dingin kiranya

demikianlah air pancuran

bercampur dengan air mataku

yang bercucuran.


Jeddah, 30 Januari 1988

------------------------------------------------


Kopi Menyiram Hutan


Tiga juta hektar

Halaman surat kabar

Telah dirayapi api

Terbit pagi ini

Panjang empat jari

Dua kolom tegaklurus

Dibongkar dari pik-ap

Subuh dari percetakan

Ditumpuk atas jalan

Dibereskan agen koran

Sebelum matahari dimunculkan

Dilempar ke pekarangan

Dipungut oleh pelayan

Ditaruh di meja makan

Ditengok secara sambilan

Dasi tengah diluruskan

Rambut istri penataan

Empat anak berseliweran

Pagi penuh kesibukan

Selai di tangan

Roti dalam panggangan

Ketika tangan bersilangan

Kopi tumpah di bacaan

Menyiram tiga juta hektare koran

Dua kolom kepanjangan

Api padam menutup hutan

Koran basah dilipat empat

Keranjang plastik anyaman

Tempat dia dibuangkan

Tepat pagi itu

Jam setengah delapan.


1988

------------------------------------------------


Adakah Suara Cemara

buat Ati


Adakah suara cemara

Mendesing menderu padamu

Adakah melintas sepintas

Gemersik dedaunan lepas

Deretan bukit-bukit biru

Menyeru lagu itu

Gugusan mega

Ialah hiasan kencana

Adakah suara cemara

Mendesing menderu padamu

Adakah lautan ladang jagung

Mengombakkan suara itu


1973

------------------------------------------------


Kembalikan Indonesia Padaku


Kembalikan Indonesia padaku


Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt,

sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,

yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam

dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam

karena seratus juta penduduknya,


Kembalikan Indonesia padaku


Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam

dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 watt,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam

lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,

dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 watt,

sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang

sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam

dan membawa seratus juta bola lampu 15 watt ke dasar lautan,


Kembalikan Indonesia padaku


Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam

dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam

karena seratus juta penduduknya,

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt,

sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,


Kembalikan Indonesia padaku


Paris, 1971

------------------------------------------------


Seorang Tukang Rambutan Pada Istrinya


Tadi siang ada yang mati,

Dan yang mengantar banyak sekali

Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah

Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!

Sampai bensin juga turun harganya

Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula

Mereka kehausan datam panas bukan main

Terbakar muka di atas truk terbuka


Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu

Biarlah sepuluh ikat juga

Memang sudah rezeki mereka

Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan

Seperti anak-anak kecil

“Hidup tukang rambutan!” Hidup tukang rambutan!

Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya

Dan ada yang turun dari truk, bu

Mengejar dan menyalami saya

Hidup pak rambutan sorak mereka

Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar

“Hidup pak rambutan!” sorak mereka

Terima kasih, pak, terima kasih!

Bapak setuju kami, bukan?

Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara

Doakan perjuangan kami, pak,

Mereka naik truk kembali

Masih meneriakkan terima kasih mereka

“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”

Saya tersedu, bu. Saya tersedu

Belum pernah seumur hidup

Orang berterima-kasih begitu jujurnya

Pada orang kecil seperti kita.


1966

------------------------------------------------


Bagaimana Kalau


Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,

tapi buah alpukat,

Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,

Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita ubah,

dan kepada Koes Plus kita beri mandat,

Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi,

dan ibukota Indonesia Monaco,

Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas,

salju turun di Gunung Sahari,

Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin

dan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop,

Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia

dibayar dengan pementasan Rendra,

Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi,

dan segala yang terjadi pernah kita rancangkan,

Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga di

kamar tidur kau dengar deru bom Vietnam, gemersik sejuta kaki

pengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi sera suara-suara

percintaan anak muda, juga bunyi industri presisi dan

margasatwa Afrika,

Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil

mempertimbangkan protes itu,

Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kita

pelihara ternak sebagai pengganti

Bagaimana kalau sampai waktunya

kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.


1966

------------------------------------------------


Dengan Puisi, Aku


Dengan puisi aku bernyanyi

Sampai senja umurku nanti

Dengan puisi aku bercinta

Berbatas cakrawala

Dengan puisi aku mengenang

Keabadian Yang Akan Datang

Dengan puisi aku menangis

Jarum waktu bila kejam mengiris

Dengan puisi aku mengutuk

Nafas zaman yang busuk

Dengan puisi aku berdoa

Perkenankanlah kiranya


1966

------------------------------------------------


Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini


Tidak ada pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

Duli Tuanku ?!


Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus.


1966

------------------------------------------------


Surat Ini adalah Sebuah Sajak Terbuka


Surat ini adalah sebuah sajak terbuka

Ditulis pada sebuah sore yang biasa. Oleh

Seorang warganegara biasa

Dari republik ini


Surat ini ditujukan kepada

Penguasa-penguasa negeri ini. Mungkin dia

Bernama Presiden. Jenderal. Gubernur.

Barangkali dia Ketua MPRS

Taruhlah dia anggota DPR

Atau pemilik sebuah perusahaan politik

(bernama partai)

Mungkin dia Mayor, Camat atau Jaksa

Atau Menteri. Apa sajalah namanya

Malahan mungkin dia saudara sendiri


Jika ingin saya tanyakan adalah

Tentang harga sebuah nyawa di negara kita

Begitu benarkah murahnya? Agaknya

Setiap bayi dilahirkan di Indonesia

Ketika tali-nyawa diembuskan Tuhan ke pusarnya

Dan menjeritkan tangis-bayinya yang pertama

Ketika sang ibu menahankan pedih rahimnya

Di kamar bersalin

Dan seluruh keluarga mendoa dan menanti ingin

Akan datangnya anggota kemanusiaan baru ini

Ketika itu tak seorangpun tahu


Bahwa 20, 22 atau 25 tahun kemudian

Bayi itu akan ditembak bangsanya sendiri

Dengan pelor yang dibayar dari hasil bumi

Serta pajak kita semua

Di jalan raya, di depan kampus atau di mana saja

Dan dia tergolek di sana jauh dari ibu, yang

Melahirkannya. Jauh dari ayahnya

Yang juga mungkin sudah tiada

Bayi itu pecahlah dadanya. Mungkin tembus keningnya

Darah telah mengantarkannya ke dunia

Darah kasih sayang

Darah lalu melepasnya dari dunia

Darah kebencian


Yang ingin saya tanyakan adalah

Tentang harga sebuah nyawa di negara kita

Begitu benarkah gampangnya?

Apakah mesti pembunuhan itu penyelesaian

Begitu benarkah murahnya? Mungkin sebuah

Nama lebih penting

Disiplin tegang dan kering

Mungkin pengabdian kepada negara asing

Lebih penting

Mungkin


Surat ini adalah sebuah sajak terbuka

Maafkan para studen sastra. Saya telah

Menggunakan bahasa terlalu biasa

Untuk puisi ini. Kalaulah ini bisa disebut puisi

Maalkan saya menggunakan bahasa terlalu biasa

Karena pembunuhan-pembunuhan di negeri inipun

Nampaknya juga sudah mulai terlalu biasa

Kita tak bisa membiarkannya lebih lama

Kemudian kita dipenuhi pertanyaan

Benarkah nyawa begitu murah harganya?

Untuk suatu penyelesaian

Benarkah harga-diri manusia kita

Benarkah kemanusiaan kita

Begitu murah untuk umpan sebuah pidato

Sebuah ambisi

Sebuah ideologi

Sebuah coretan sejarah

Benarkah?


1965

------------------------------------------------


Siluet


Gerimis telah menangis

Di atas bumi yang lelah

Angin jalanan yang panjang

Tak ada rumah. Kita tak berumah

Kita hanya bayang-bayang

Gerimis telah menangis

Di atas bumi yang letih

Di atas jasad yang pedih

Kita lapar. Kita amat lapar

Bayang-bayang yang lapar

Gerimis telah menangis

Di atas bumi yang sepi

Sehabis pawai genderang

Angin jalanan yang panjang

Menyusup-nyusup

Menusuk-nusuk

Bayang-bayang berjuta

Berjuta bayang-bayang

Di bawah bayangan pilar

Di bawah bayangan emas

Berjuta bayang-bayang

Menangisi gerimis

Menangisi gunung api

Kabut yang ungu

Membelai perlahan

Hutan-hutan

Di selatan.


1965


------------------------------------------------

TAUFIQ ISMAIL. Penyair dan sastrawan ternama Indonesia. Ia menulis di berbagai media, jadi wartawan, salah seorang pendiri Horison (1966), ikut mendirikan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan jadi pimpinannya, pj. direktur Taman Ismail Marzuki (TIM), rektor Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) dan Manajer Hubungan Luar Unilever. Sejak 1958 aktif di AFS Indonesia, menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya.

Ia menulis buku kumpulan puisi, seperti Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya:Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh, dan lain-lain. Banyak puisinya dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo pimpinan Samsudin Hardjakusumah, atau sebaliknya ia menulis lirik buat mereka. Ia pun menulis lirik buat Chrisye, Ian Antono (dinyanyikan Ahmad Albar) dan Ucok Harahap. 

Bosan dengan kecenderungan puisi Indonesia yang terlalu serius, di awal 1970-an menggarap humor dalam puisinya. Sentuhan humor terasa terutama dalam puisi berkabar atau narasinya. Mungkin dalam hal ini tiada teman baginya di Indonesia. Antologi puisinya berjudul Rendez-Vous diterbitkan di Rusia dalam terjemahan Victor Pogadaev dan dengan ilustrasi oleh Aris Aziz dari Malaysia (Rendez-Vous. Puisi Pilihan Taufiq Ismail. Moskow: Humanitary, 2004.).


Sumber : Penyair Terkenal


Share:
Puisi Lainnya